“Pesan Terakhir Guruku”


Sebuah cerita yang khusus saya dedikasikan untuk diikutsertakan dalam "Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional" tingkat Kecamatan, Kotamadya, dan tingkat Provinsi tahun 2009.
Cerpen ini telah membawa saya untuk dapat ikut berlomba di Yogyakarta, dalam FLS2N tingkat Nasional.

“Pesan Terakhir Guruku”
Terlihat seorang siswa SMU yang sedang duduk dengan gelisah di dalam sebuah gedung yang cukup besar. Mukanya pucat dan tangannya gemetaran. Tampaknya ia gugup dan khawatir pada suatu hal, di sekitarnya, riuh rendah suara penonoton terdengar.
“Lakukanlah dengan hati”, kata anak SMU itu dalam hati-nya.
       Delapan tahun yang lalu……
“Anak-anak, ini Pak Maman, wali kelas kalian yang baru”, kata Bu Heni pada murid-murid kelas 4 SD Bunga Matahari.
“Bu, Saya mau berpendapat”,kata Aldi sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Iya Aldi, kamu hendak berpendapat apa ?”, tanya Bu Heni.
“Penampilan wali kelas kita yang baru sepertinya berbeda dengan guru-guru lain di sekolah ini”
“Beda ? Apa maksudmu dengan beda ? Menurut Ibu, Pak Maman sudah menaati peraturan
dengan memakai kemeja dan celana panjang bahan”
“Bukan itu maksud saya, Bu”
“Lalu ? Apa maksudmu ?”
“Maksud saya, lihat-lah Pak Maman. Kemeja-nya lusuh, celana-nya pudar, sepatu-nya dekil, dan tas-nya berlubang”
“Apakah kamu memiliki masalah dengan itu ?”
“Tentu saja itu sebuah masalah, Bu ! Penampilan Pak Maman sangat menggambarkan ia seorang yang tidak mampu. Singkatnya, miskin !”
“Aldi ! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu ! Itu tidak sopan !”
“Tapi itu fakta, Bu ! Betul tidak teman-teman ?”, kata Aldi sambil meminta dukungan teman-temannya.
“Betul !”, jawab seluruh murid kelas 4 serempak.
“Aldi ! Kamu harus Ibu hukum !”, kata Bu Heni dengan marah.
“Sudahlah, Bu. Tidak usah dipikirkan, biasa, anak-anak”, kata Pak Maman dengan bijak.
“Aldi ! Seharusnya kamu berterima kasih pada Pak Maman ! Karena jika bukan karena Pak Maman, sekarang kamu sudah Ibu hukum !”, kata Bu Heni masih dengan nada suara yang tinggi.
“Untuk apa saya berterima kasih pada Pak Maman ? Tak ada untungnya pula bagi saya”, jawab Aldi dengan angkuh.
“Aldi ! Kamu……..”, bentak Bu Heni.
“Sudahlah, Bu, maklumi saja. Saya juga tidak merasa sakit hati.”, kata Pak Maman.
“Tapi Pak…”, jawab Bu Heni.
“Sudahlah”, kata Pak Maman lembut.
       Namanya Aldi. Seorang anak pengusaha kaya yang cukup terkenal di Jakarta. Seluruh permintaan Aldi, selalu dipenuhi. Aldi begitu dimanjakan oleh orang tua-nya, sehingga ia tidak pernah belajar sopan dan menghargai orang lain. Aldi sering sekali berlaku sewenag-wenang pada orang lain, terutama orang yang kondisi ekonominya rendah. SD Bunga Matahari, sekolah Aldi saat ini, merupakan sebuah sekolah swasta yang sangat elit. Murid-murid yang bersekolah disana, semuanya orang yang berada, sehingga, tidak heran murid-murid di sekolah ini memiliki satu sifat yang sepertinya telah mendarah daging, yaitu sombong. Pak Herry, wali kelas Aldi sebelumnya, telah pindah tugas ke Bandung, sehingga Pak Maman datang ke SD Bunga Matahari untuk menggantikan Pak Herry. Tak ada yang menarik dari Pak Maman. Ia hanya seorang pria paruh baya yang berpenampilan sangat sederhana. Kemeja-nya yang lusuh, celana-nya yang pudar, tas-nya yang berlubang, dan sepatu-nya yang dekil, selalu menghiasi-nya. Itu-lah alasan mengapa Aldi menyebut Pak Maman miskin.
       Beberapa jam kemudian, bel tanda sekolah usai pun berbunyi. Seluruh murid keluar dari kelasnya masing-masing.
“Aldi ! Coba kamu lihat motor vespa itu  ! Jelek sekali ya ?”, kata Radit sambil menunjuk motor vespa yang di parkir di tempat khusus parkir motor di SD Bunga Matahari.
“Iya ! Betul juga ! Ternyata ada juga motor dengan kondisi buruk seperti itu di parkir di sekolah kita !”, jawab Aldi.
“Iya ! Aku heran, seingat-ku, murid-murid dan guru-guru di sekolah ini, orang kaya semua ! Bagaimana bisa kendaraan seperti itu parkir di sekolah kita ?”
“Kira-kira, siapa pemiliknya ya ?”
Pertanyaan itu segera terjawab ketika Pak Maman berjalan menuju motor vespa tersebut. Ia menyalakan mesinnya, dan mengendarai-nya keluar dari SD Bunga Matahari.
“Oh ! Rupanya itu punya Pak Maman ! Pantas saja !”, kata Radit kemudian.
“Oh iya ! Aku sampai lupa bahwa ada satu orang tidak  mampu di sekolah ini !”, kata Aldi.
“Ya ampun ! Ternyata Pak Maman benar-benar seorang yang tidak mampu ya !”
“Tentu saja ! Lihat saja penampilannya ! Dari sana juga sudah terlihat bahwa ia seorang yang tidak mampu ! Tetapi aku punya suatu rencana untuk-nya !”
“Rencana ? Rencana apa, Di ?”
“Rencana untuk memberikan sambutan selamat datang pada Pak Maman !”
“Apa rencanamu itu ?”
“Lihat saja besok ! Pasti akan mengasyikkan !”, kata Aldi dengan mukanya yang licik.
       Keeseokan harinya, Pak Maman mengajarkan IPS untuk murid-murid kelas 4 SD Bunga Matahari.
“Anak-anak, kalian harus bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan pada kalian ! Jika kalian lihat di luar sana, masih banyak anak seumuran kalian yang tak bisa bersekolah dan harus bekerja mencari nafkah hanya untuk mendapatkan sesuap nasi”, kata Pak Maman.
“Pak !”, kata Aldi sambil mengangkat tangannya.
“Iya Aldi ! Kamu hendak bertanya ?”, tanya Pak Maman.
“Bukan Pak ! Saya ingin menyampaikan pendapat saya !”
“Boleh. Apa pendapatmu itu ?”
“Menurut saya, kita tidak perlu mempersulit diri dengan melihat keluar anak-anak yang tidak mampu ! Hanya dengan memandang Bapak saja, kita harus bersyukur pada Tuhan ! Karena Bapak dapat menjadi contoh orang-orang yang tidak mampu itu ! Betul tidak teman-teman ?”, kata Aldi dengan suara keras.
“Betul !”, jawab seluruh murid kelas 4 serempak.
Pak Maman terdiam. Mukanya sendu dan murung. Sepertinya ia merasa sakit hati.
“Sabar…sabar…saya harus bisa merubah sikap mereka menjadi lebih baik !”, kata Pak Maman dalam hati.
       Bel tanda sekolah usai kembali berbunyi. Seperti biasa, murid-murid keluar dari kelas mereka masing-masing. Sedangkan Pak Maman dan guru-guru yang lain, tetap berada di kantor guru untuk melaksanakan rapat. Kini, Aldi dan Radit sedang berjalan menuju tempat parkir motor di sekolah mereka. Mereka mulai mendekati vespa tua milik Pak Maman.
“Sebenarnya, apa yang ingin kamu lakukan, Di ?”, tanya Radit pada Aldi.
“Lihat saja !”, jawab Aldi.
Aldi mengeluarkan sebuah kantong plastik dari dalam tas-nya. Kantong tersebut berisi sebuah paku yang cukup besar dan 6 botol cat pilok dengan 6 warna berbeda. Ia kemudian menyemprotkan isi botol cat itu pada vespa Pak Maman, dan menusukkan paku tersebut pada kedua ban vespa Pak Maman.
“Hei Radit ! Kamu jangan diam saja ! Ayo cepat bantu aku !”, kata Aldi.
Radit pun mengambil salah satu botol cat dan mulai menyemprotkan juga. Setelah itu, meteka pergi meninggalkan sekolah tersebut. Sesaat kemudian, Pak Maman berjalan menuju vespa-nya. Ia terkejut sekali ketika melihat motor vespa-nya banyak terdapat coretan cat pilok, terlebih lagi kedua ban-nya kempis. Ia terpaksa mendorong pulang vespa tersebut dengan berjalan kaki sepanjang jalanan menuju rumahnya. Selama perjalanan, Pak Maman berpikir, bagaimanakah ia dapat memperbaiki motor-nya ? Padahal untuk makan saja, ia sudah kesulitan. Sekarang ini, ia belum menerima gaji, sehingga ia tidak punya uang. Selain itu, ia juga berpikir, apakah ia masih dapat bertahan mengajar di SD Bunga Matahari ? Padahal ia baru 2 hari bekerja disana, namun ia telah mendapatkan banyak masalah.
       Hari demi hari berlalu. Ternyata, Pak Maman masih dapat mengendalikan sikapnya di SD Bunga Matahari. Ia tidak lagi menggunakan vespa-nya untuk pergi ke sekolah, karena ia tidak mampu memperbaiki vespa-nya yang memang sudah sangat tua dan tak layak lagi digunakan. Kini, Pak Maman selalu berjalan kaki untuk pergi ke SD Bunga Matahari, namun semangatnya tak pernah surut. Ia sering mengajak anak-anak muridnya untuk pergi ke tempat-tempat umum di dekat sana, itu merupakan caranya untuk mengenalkan dan mengajarkan berbagai aspek kehidupan yang ada di Indonesia pada murid-muridnya. Suatu saat, Pak Maman mengajak murid-muridnya pergi ke panti asuhan, dan ternyata, itu sangat membantu membuat sifat anak-anak yang sombong, menjadi lebih baik lagi, meskipun tidak seluruhnya berubah. Berbeda dengan murid-murid yang lain, sepertinya Aldi sama sekali tidak berubah. Sikap ketus dan sewenang-wenangnya sama sekali tidak berkurang, bahkan ia menjadi lebih sering menghina Pak Maman. Sebenarnya, banyak teman Aldi yang sudah menasihati Aldi untuk bersikap baik pada Pak Maman, namun Aldi tetap saja tak menghiraukannya. Teman-teman Aldi memang banyak yang sudah berubah menjadi anak yang baik berkat bimbingan Pak Maman, guru miskin yang selalu dihina oleh Aldi. Meskipun begitu, teman-teman Aldi tetap tak dapat berbuat banyak, mungkin itu dikarenakan teman-teman Aldi takut dihina juga oleh Aldi.
       Pada suatu hari yang gelap karena hujan deras dan petir yang sambar-menyambar, Aldi dipanggil oleh orang tua-nya. Aldi terkejut ketika melihat kedua orang tua-nya menangis tersedu-sedu.
“Ada apa, Ma ?”, tanya Aldi pada Ibu-nya.
“Ada berita buruk, Nak. Perusahaan Papa-mu bangkrut, sehingga kita harus pindah dari rumah ini, dan mencari rumah yang lebih kecil.”, jawab Mama Aldi dengan tersendat-sendat.
Aldi terkejut. Mukanya pucat pasi, tak terasa air mata keluar dari kedua matanya, ia sadar semua akan berbeda mulai saat ini. Benar saja, kini Aldi tinggal di rumah yang sangat kecil dan sudah lapuk yang terletak di pinggir kota. Aldi sudah 1 bulan tidak masuk sekolah karena tidak dapat melunasi biaya sekolahnya. Pak Maman khawatir dengan tidak hadirnya Aldi dalam setiap kegiatan belajar mengajarnya. Hingga suatu saat, Pak Maman hendak pergi ke sebuah tempat di Jakarta, ia pergi dengan menggunakan bus kota, dan di dalam bus kota tersebut, ia bertemu dengan Aldi yang sedang mengamen.
“Aldi ! Apa yang kamu lakukan disini ?”, tanya Pak Maman pada Aldi dengan sangat terkejut.
“Eh, Pak Maman. Saya sedang mencari nafkah supaya saya dan keluarga bisa makan, Pak.”, jawab Aldi.
“Apa maksudmu ? Bukankah kamu itu orang kaya ? Lalu, mengapa kamu tidak lagi masuk sekolah ?”,
“Perusahaan orang tua saya bangkrut, Pak. Kini, saya dan keluarga saya menjadi keluarga miskin yang bahkan untuk makan pun susah. Saya tak dapat melunasi biaya sekolah, karena itu saya tidak lagi melanjutkan sekolah saya”
“Ya ampun. Malang betul nasib-mu, Nak. Tetaplah kamu bersekolah di SD Bunga Matahari  ! Untuk masalah biaya-nya, biarkan Bapak yang menanggungnya.”
“Tetapi Pak, bukannya saya tidak sopan, setahu saya, Bapak juga sedang kesulitan uang. Apa saya tidak merepotkan Bapak ? Terlebih lagi, saya juga sering menghina Bapak sewaktu dulu.”
“Tidak, Nak, kamu tidak merepotkan Bapak. Memang Bapak sedang kesulitan uang, namun berkat gaji yang Bapak terima, hidup Bapak sekarang ini menjadi lebih baik. Soal dulu kamu sering menghina Bapak, biarlah itu menjadi masa lalu saja, Bapak juga sudah melupakannya.”
“Ya ampun, Pak. Terima kasih sekali !”, kata Aldi sungguh-sungguh.
Sejak saat itu, Aldi kembali bersekolah di SD Bunga Matahari, namun kini ada perbedaan, sikap Aldi menjadi lebih bak. Kini ia tidak lagi sombong dan bersikap sewenang-wenang pada orang lain. Murid-murid lain pun begitu, semuanya menjadi baik dan bersikap sopan pada orang lain. Sifat sombong yang dulu seakan telah mendarah daging pada diri mereka, sekarang ini lenyap ditelan bumi. Kini kehidupan mereka menjadi lebih baik.
       Hari ini pelajaran PLKJ, Pak Maman menjelaskan tentang Lenong, kesenian tradisional yang dipopulerkan oleh masyarakat Betawi. Pak Maman menjelaskan tentang alat-alat musik tradisonal yang sering digunakan dalam kesenian ini, seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan. Ia menjelaskan tentang lenong yang sudah mulai berkembang dari akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Lenong memiliki 2 jenis, yaitu  lenong denes dan lenong preman. Lenong denes biasanya bercerita tentang kisah-kisah 1001 malam dengan menggunakan bahasa yang formal, sedangkan lenong preman berisi kisah kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahasa tidak formal yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pak Maman bercerita dengan sangat mengesankan, murid-murid kelas 4 sangat kagum atas cerita Pak Maman. Melihat itu semua, Aldi mendapat sebuah ide, ide yang dapat membuat semua murid-murid kelas 4 SD Bunga Matahari bekerja sama, membuat Pak Maman senang.
       Aldi telah menulis semua rencananya dalam selembar ketas yang sekarang telah terisi penuh tulisan tangannya yang tidak terlalu rapi. Aldi berharap, semua dapat berjalan lancar sesuai rencananya. Ia pergi ke sekolah dengan semangat, namun, ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang buruk. Hari itu mendung. Aldi yang baru tiba di dalam kelas dengan semangat menggebu-gebu, terheran-heran melihat semua temannya duduk sambil menundukkan kepala.
“Ada apa ?”, tanya Aldi pada Radit. Radit diam, masih menundukkan kepala. Ia tidak menghiraukan pertanyaan Aldi. Terasa suasana kelas yang suram.
“Hei, aku bertanya padamu ! Jangan lupakan itu ! Ayo jawab pertanyaanku !”, kata Aldi pada Radit untuk kedua kalinya.
“Berita buruk”, jawab Aldi singkat.
“Aku tahu ! Aku tahu sesuatu yang buruk pasti telah terjadi, terlihat jelas di wajah kalian.  Tapi apa ? Apa yang telah terjadi ?”
“Pak Maman ! Beliau masuk rumah sakit karena penyakit kanker otak !”, jawab Radit, wajahnya penuh penyesalan.
“Apa katamu ?! Lalu tunggu apa lagi ? Ayo kita jenguk Pak Maman !”, kata Aldi dengan terkejut.
“Tidak bisa ! Ingat, sekarang kita masih harus bersekolah ! Kita tidak boleh bolos sekolah hari ini !”
“Baiklah, aku mengerti. Pulang sekolah kita jenguk Pak Maman”, jawab Aldi.
Hari itu, murid-murid kelas 4 tidak bisa fokus pada pelajaran. Mereka semua teringat pada Maman.  Bel pulang terasa lama sekali, sampai akhirnya, bel itu pun berbunyi. Aldi, Radit, dan semua murid kelas 4 SD Bunga Matahari pergi ke rumah sakit dengan didampingi Bu Heni. Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Pak Maman yang terkulai lemah di tempat ridur dalam ruang ICU. Sepertinya, penyakit Pak Maman sudah sangat parah. Benar saja, hal itu dapat dibuktikan ketika Aldi secara tidak sengaja mendengar percakapan Bu Heni dengan dokter yang merawat Pak Maman.
“…….apakah parah sekali, Dok ?”, terdengar samar-samar suara Bu Heni yang sedang berbicara dengan dokter.
“Begitulah, kanker otak yang dialami Pak Maman ini sudah meranjak stadium 4. Saya sangat pesimis sekarang ini, kemungkinan masa hidupnya tinggal sebentar lagi.”, kata dokter dengan raut muka yang tampak kecewa.
Aldi yang mendengar pembicaraan itu, sangat terkejut. Ia memberitahu teman-temannya, dan ia tidak henti-hentinya berdoa pada Tuhan agar menyelamatkan nyawa Pak Maman.
       Sudah satu minggu Pak Maman dirawat di rumah sakit dan tidak sadarkan diri. Sementara itu, sekolah harus tetap berjalan. Bu Heni menggantikan posisi Pak Maman sebagai wali kelas 4 untuk sementara.
“Dua minggu lagi, Pak Maman ulang tahun. Kita harus membuat kejutan untuk beliau ! Bagaimana menurut kalian ?”, tanya Aldi pada saat jam pelajaran kosong di sekolahnya. Para guru sedang rapat ,sehingga jam pelajaran ke-empat kosong.
“Ide bagus, Di ! Tapi, bagaimana caranya ?”, tanya Radit.
“Sebenarnya aku memiliki suatu rencana, namun aku ingin mendengar saran kalian terlebih dahulu, setelah itu, aku akan mengutarakan rencana-ku”, jawab Aldi.
“Bagaimana jika kita membentuk suatu kelompok paduan suara, dan bernyanyi untuk Pak Maman ?”, saran Vitri.
“Itu ide bagus, namun menurut-ku itu terlalu sederhana !”, jawab David.
“Aku tahu ! Kita tampilkan saja suatu tari kreasi kita sendiri ! Pasti Pak Maman menyukainya !”, usul Regina.
“Itu juga terlalu sederhana ! Pikirkan yang lebih baik dari itu !”, kata Hardi.
“Hei ! Jangan seenaknya menghina ide-ku !”, kata Regina marah.
“Aku tidak menghina ide-mu ! Kamu terlalu sensitif !”, jawab Hardi tidak kalah marah-nya.
“Hei ! Ini bukan saatnya untuk bertengkar ! Rencana yang telah ku-susun akan mengikutsertakan semua saran kalian”, kata Aldi menengahi.
“Apa rencana-mu, Di ?”, tanya Radit.
“Aku berencana untuk membuat suatu pertunjukan lenong. Pertunjukan yang mencakup seni suara, seni tari, seni sastra, dan seni teater. Pertunjukan yang akan melibatkan kalian semua. Pertunjukan yang bukan hanya sekedar untuk menghibur diri, tetapi juga pertunjukan moral.”, kata Aldi.
“Itu baru ide ! Ide-mu brillian ! Aku setuju !”, kata Arya.
Semua murid setuju akan ide Aldi. Mereka semua bekerja sama membuat pertunjukkan itu. Tema pertunjukan adalah tentang murid-murid yang nakal, yang berubah karena kesabaran guru-nya dalam membimbing mereka. Tema itu diangkat berdasarkan kisah nyata, kisah mereka semua yang sombong, dan kini telah berubah menjadi anak baik karena bimbingan Pak Maman. Vitri, membentuk kelompok paduan suara yang ber-anggotakan 15 orang murid kelas 4. Ia menentukan lagu yang akan mereka nyanyikan, dan mengatur pembagian suara 1, suara 2, dan suara 3. Ia juga bekerja sama dengan Kennedy. Kennedy membentuk kelompok pemain alat musik yang ber-anggotakan 5 orang anak kelas 4. Mereka memainkan alat musik tradisional, karena pertunjukkan lenong harus diiringi alat musik, seperti: gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan. Regina, membentuk kelompok tari yang ber-anggotakan 10 orang anak kelas 4. Beberapa anggota kelompok tari juga menjabat sebagai anggota kelompok paduan suara. Regina juga bekerja sama dengan Kennedy dan kelompok pemain alat musik-nya. Aldi, Radit, Riska, Titah, Nadia dan Khansa menyusun skenario pertunjukan yang sesuai dengan tema. David, Hardi, Diaz, dan Nitho merancang kostum untuk siswa laki-laki sesuai dengan skenario. Sedangkan, Vega, Cynthia, Dhiva, Gistra, dan Vhia merancang kostum untuk siswa perempuan.  Raisha, Veronica, Abi, Isna, Wikan, Rindu, dan Seto membuat properti sesuai tema. Zahra, Lia, Ferdinan, Adhi,dan Dhea menyiapkan 3 puisi berbahasa Indonesia yang bertema guru dan perjuangannya. Aufa, Rizka, Brenda, Rahma, dan Fadli menyiapkan 3 puisi berbahasa Inggris. Radit, Madani dan Arya menyiapkan sajak berbahasa Betawi. Sedangkan, Ayu, Yunith, Refi, Putri, dan Mia menyiapkan lukisan untuk Pak Maman. Mereka semua berlatih memerankan peran masing-masing. Mereka berlatih sepulang sekolah di kelas. Semuanya bersungguh-sungguh, hanya dalam 1 minggu, semua persiapan selesai. Mereka hanya harus lebih mempersiapkan diri dengan skenario-nya.
Pak Maman keluar dari rumah sakit, dua hari sebelum hari ulang tahunnya. Ia sudah lebih baik dari sebelumnya, namun ia tetap tidak bisa mengajar seperti biasa. Ia hanya berdiam diri di rumah-nya yang kecil. Sekarang, ia duduk di atas kursi roda. Sendirian, karena kini Pak Maman tidak memiliki istri atau anak. Istri dan anak-nya telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sedangkan, saudara-saudaranya, jauh berada di kampung halamannya, di Tegal. Kanker otak-nya, telah merenggut semua mimpi-mimpi-nya. Kini, ia hanya dapat melihat keluar halaman-nya yang luas, dan menikmati udara sambil melihat anak-anak yang sedang bermain gundu. Pak Maman tinggal di perkampungan. Rumahnya kecil, namun terdapat tanah luas membentang di depan rumahnya, sehingga, banyak anak-anak yang senang bermain macam-macam permainan di depan rumah Pak Maman. Hal itu telah menambah semangat-nya. Ia sangat menyukai anak-anak. Ia senang jika melihat anak-anak yang tersenyum gembira. Hal itu merupakan semangat baginya untuk terus bertahan memperjuangkan hidup-nya yang telah rapuh.
         Hari ini, hari ulang tahun Pak Maman. Persiapan pentas lenong telah selesai. Semua telah hafal peran-nya masing-masing, dan seluruh kostum, properti, dan lainnya telah siap. Bu Heni telah menyetujui rencana mereka, dan Bu Heni telah meminta izin pada kepala sekolah untuk meminjam mobil sekolah. Mobil itu akan digunakan sebagai kendaraan menuju rumah Pak Maman. Kepala sekolah setuju, bahkan pihak sekolah pun ikut menyumbang untuk membantu meringankan beban Pak Maman. Murid-murid kelas 4 beserta Bu Heni, akhirnya tiba di rumah Pak Maman. Mereka sangat prihatin dengan kondisi rumah Pak Maman yang tidak terlalu layak ditempati. Beberapa genteng rumah Pak Maman sudah lepas dari tempatnya. Temboknya juga sudah rapuh, dan rumah Pak Maman terlihat suram. Sepertinya, Pak Maman belum menyadari kehadiran murid-muridnya di luar. Pak Maman sedang mandi, sehingga ia tidak mendengar ada orang yang datang. Tanah luas itu pun sepi, hari memang masih siang, masih terlalu panas untuk anak-anak kampung bermain gundu atau gasing di tanah luas itu. Aldi memerintahkan teman-temannya untuk langsung menyiapkan properti pertunjukan, agar ketika Pak Maman keluar dari rumahnya, Pak Maman dapat langsung menyaksikan pertunjukan. Mereka juga telah siap dengan kostum mereka. Pak Maman keluar dari kamar mandi dengan susah payah, ia kembali menduduki kursi roda-nya. Ia mendengar suara banyak anak-anak di luar rumahnya. Ia pun langsung membuka pintu rumahnya, dan terlihat seluruh muridnya beserta Bu Heni berdiri di tanah luas itu.
“Kalian…sedang apa disini ?”, tanya Pak Maman dengan terkejut. Suaranya terdengar lemah sekali.
“Kami ingin menunjukkan sesuatu pada Bapak. Bapak tenanglah disitu, dan lihat pertunjukkan kami”, kata Aldi.
Pak Maman duduk dengan tenang. Anak-anak memulai pertunjukkan mereka. Pertama, Kennedy beserta kelompok pemain alat musik-nya, memainkan nada pembuka. Setelah itu, murid-murid dengan berbagai kostum mulai bermunculan, dan ber-akting, layaknya pemain teater lenong andal. Aldi berperan menjadi murid yang sangat sombong. Anak-anak lain ada yang berperan menjadi Bu Heni, Pak Maman, dan lain-lain. Mereka mengawali pertunjukkan dengan cerita saat Pak Maman pertama kali datang ke sekolah mereka, dan Aldi serta teman-temannya mengejek gaya berbusana Pak Maman yang sangat sederhana. Akting mereka, diselingi dengan lagu-lagu yang dinyanyikan kelompok paduan suara. Suasana disana menjadi hidup. Latar suasana cerita bermacam-macam, ada suasana yang sedih, lucu, mengharukan, gembira, marah, ribut, dan lain-lain. Pertunjukkan mereka terdengar ke rumah-rumah warga di sekitar rumah Pak Maman. Warga kampung itu pun berdatangan, mereka penasaran akan apa yang terjadi di tanah luas depan rumah Pak Maman itu. Penonton semakin lama semakin banyak. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, semua datang menyaksikan pertunjukkan yang sebenarnya hanya untuk Pak Maman. Pertunjukkan berlanjut. Vitri beserta kelompok tari-nya menari-kan tari tradisional Jakarta dan tari kreasi mereka sendiri. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan melihat aksi mereka. Kelompok paduan suara kembali menyanyikan lagu, namun kali ini, 6 orang anak kelas 4, secara teratur juga ikut serta bersama mereka membacakan puisi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain itu, 3 anak lain juga membacakan sajak dengan bahasa Betawi. Mereka sedang melakukan pertunjukkan musikalisasi puisi. Pertunjukkan semakin meriah, karena telah mencapai klimaks-nya, yaitu ketika Pak Maman menemukan Aldi yang sedang mengamen di bus. Anak yang memerankan tokoh Pak Maman, sangat bisa mendalami peran-nya, sehingga pertunjukkan itu menjadi sangat bagus. Akhirnya, pertunjukkan selesai, dengan cerita para murid yang telah sadar akan sikap mereka yang jelek. Mereka telah berubah menjadi anak yang baik, dan berbudi pekerti. Pak Maman sangat terharu melihat pertunjukkan itu. Selain Pak Maman, Bu Heni, dan para warga kampung yang menyaksikkan pertunjukkan itu juga merasa terharu. Tak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata haru-nya. Tepuk tangan penonton sangat keras terdengar ketika pertunjukkan ditutup. Aldi dan kawan-kawan merasa sangat gembira. Meskipun begitu, sebenarnya pertunjukkan belum benar-benar selesai. Sekarang, semua murid berbaris rapi, dan dengan diiringi alat musik yang dimainkan kelompok Kennedy, mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan semangat dan kompak. Setelah itu, ucapan selamat ulang tahun dibacakan dengan bahasa Indonesia oleh Lia, lalu dengan bahasa Inggris oleh Cynthia, dan bahasa Betawi oleh Khansa. Terakhir, Putri menyerahkan 3 lukisan hasil karya-nya beserta Ayu, Yunith, Refi, dan Mia, lalu Bu Heni juga memberikan sekotak besar hadiah hasil patungan guru-guru. Pak Maman benar-benar merasa terharu dan senang sekarang. Ia sampai bingung harus berbicara apa. Kata-kata yang biasanya mengalir lancar dari mulutnya, kini tertahan, karena rasa bahagianya. Ia benar-benar tidak menyangka murid-murid dan rekan gurunya mengingat hari ulang tahunnya. Terlebih lagi mereka mau merepotkan diri menyiapkan pertunjukkan lenong dengan jenis lenong preman untuk menghibur dirinya. Lenong preman merupakan lenong yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, dan murid-murid Pak Maman telah mempertunjukkan lenong yang bercerita kehidupan mereka di sekolah.
“Terima kasih anak-anak, terima kasih Bu Heni. Saya bingung harus berkata apa lagi, tetapi, kalian benar-benar membuat saya bahagia, dan menambah semangat hidup saya yang tinggal sedikit lagi. Terima kasih banyak”, kata Pak Maman dengan suara tersendat-sendat.
Anak-anak benar-benar merasa bahagia. Kerja keras mereka telah berhasil.
Pak Maman masih belum dapat mengajar  di SD Bunga Matahari. Keadaannya masih belum pulih betul. Aldi dan kawan-kawannya sedang belajar matematika. Bu Heni yang mengajar matematika untuk mereka. Tiba-tiba, Pak Haris, wakil kepala sekolah SD Bunga Matahari, datang ke kelas 4, kelas Aldi. Ia membisikkan sesuatu pada Bu Heni. Anak-anak tidak dapat mendengar perkataan Pak Haris pada Bu Heni, namun mereka tahu, bahwa berita yang dibisikkan Pak Haris pada Bu Heni, bukan berita baik, karena Bu Heni terlihat sangat terkejut dan raut mukanya terlihat sangat sedih. Pak Haris keluar dari kelas, raut muka Pak Haris juga terlihat sangat menyesal. Sesaat, kelas hening. Bu Heni terlihat sedang berpikir keras, anak-anak menjadi tegang melihat sikap Bu Heni.
“Anak-anak, ada kabar buruk….”, kata Bu Heni, ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Bu Heni kembali terlihat sedang berpikir.
“Aku sudah yakin pasti ada kabar buruk, Bu Heni terlihat sangat tertekan. Ada apa ya ?”, kata Aldi dalam hati.
“Pak Maman…Pak Maman koma, kini beliau kembali masuk rumah sakit.”, kata Bu Heni, melanjutkan kalimatnya.
Anak-anak terlihat sangat terkejut. Ini yang dipikirkan oleh Bu Heni, ia khawatir murid-muridnya menjadi tertekan karena mendengar kabar buruk soal Pak Maman. Sepulang sekolah, Bu Heni dan murid-murid kelas 4 datang ke rumah sakit. Mereka melihat Pak Maman yang kembali terkulai lemah di ruang ICU. Sangat memprihatinkan, Pak Maman terlihat lebih menderita dibanding saat beliau pertama kali masuk ruang ICU.
Aldi berjalan menuju kamar mandi. Ia harus buang air kecil. Saat Aldi berjalan kembali menuju teman-temannya, ia melewati ruang dokter. Ia mendengar sedikit pembicaraan antara dokter dengan perawatnya.
“Bagaimana Suster ?  Apakah ada perkembangan ?”, tanya dokter pada perawat.
“Sejauh ini tidak ada Dok, bahkan kondisi-nya semakin parah. Pasien tidak juga kunjung sadar, sepertinya, sekarang sudah benar-benar tidak ada harapan.”, kata perawat.
“Begitu ya, baiklah, saya akan mencoba menjelaskan pada pihak keluarga pasien.”, kata dokter.
Aldi sangat terpukul mendengarnya. Ia berjalan dengan putus asa menghampiri teman-temannya. Dokter mendatangi Bu Heni.
“Anda keluarga Pak Maman ?”, tanya dokter.
“Maaf Dok, kami bukan keluarga Pak Maman, keluarga Pak Maman sulit dihubungi. Saya rekan Pak Maman, dan anak-anak ini murid-muridnya. Ada apa ya, Dok ?”, tanya Bu Heni.
“Pak Maman telah lama mempunyai kanker di otaknya, namun perawatannya tidak intensif. Sekarang, ia benar-benar sedang kritis. Sepertinya, kali ini tidak ada lagi harapan untuknya, jika ia berhasil sadar, kemungkinan ia dapat bertahan hidup, tidak akan lama. Kita hanya dapat berdoa yang terbaik untuknya.”, kata dokter.
Keesokan harinya, Aldi kembali berkunjung ke rumah sakit, namun kali ini, ia hanya pergi bertiga dengan Radit dan Bu Heni. Pak Maman telah sadar, namun kondisi-nya masih sangat kritis. Pak Maman meminta perawat untuk memanggil Aldi ke dalam ruang perawatannya. Aldi masuk, bibirnya bergetar karena menahan tangis. Ia tidak tega melihat kondisi Pak Maman kali ini.
“Aldi, Bapak pikir, umur Bapak sudah tak lama lagi, Bapak hanya pesan, teruslah kamu berbuat baik pada orang lain dan jangan pernah berputus asa ! Kamu harus melanjutkan sekolahmu hingga universitas. Raihlah cita-citamu dengan tujuan untuk menolong orang lain. Oh ya, ini ada kertas untukmu dan teman-temanmu, isinya adalah pesan dari Bapak untuk kalian semua. Jangan dibuka sekarang ya !.”, kata Pak Maman dengan tersendat-sendat.
“Baik Pak, terima kasih banyak atas jasa Bapak yang tulus selama ini.”, jawab Aldi dengan berlinang air mata.
Aldi keluar dari ruangan. Beberapa jam kemudian, Aldi mendengar kabar bahwa Pak Maman telah meninggal dunia.
Kelas Aldi hening, padahal seluruh murid masuk sekolah hari ini. Sehari setelah meninggalnya Pak Maman, murid-murid kelas itu masih trauma. Bagaimana tidak ? Pak Maman-lah yang membuat banyak perubahan positif pada diri mereka semua dan Pak Maman-lah yang membuat Aldi dapat meneruskan sekolahnya, namun apa daya ? Tuhan telah menentukan pilihannya. Pak Maman telah tiada, dan itulah jalan terbaik baginya. Tuhan tidak akan pernah salah memilihkan pilihan bagi setiap hamba ciptaan-Nya. Hanya kita perlu beruasaha, agar dapat jalan yang sebaik-baiknya. Jalan yang penuh cahaya dan kedamaian. Bukan jalan gelap yang penuh huru-hara. Pak Maman telah cukup berusaha, ia telah berhasil menjadi guru bagi murid-muridnya. Sudah seharusnya mereka bangga pada Pak Maman.
“Teman-teman, beberapa jam sebelum Pak Maman meninggal, Pak Maman memberikan secarik kertas padaku, katanya kertas itu berisi pesan untuk kita semua”, kata Aldi.
“Oh ya ? Kalau begitu, bacakan saja, Di !”, kata Radit.
“Baiklah, akan kubacakan. Dengarkan baik-baik ! ‘Murid-muridku, apakah kalian tahu masa depan ? Masa depan itu hal yang aneh. Ia tidak akan bisa mundur ke belakang atau di percepat seperti DVD player. Ia akan mengalir seperti sungai yang sangat panjang, hingga ujungnya berupa ajal yang pasti akan menjemput kita. Kalian harus bersabar akan masa depan kalian. Memang, kita tidak dapat menentukan, bagaimana masa depan kita akan berjalan, namun, kita dapat berusaha agar jalannya sesuai harapan kita. Jalan kalian masih sangat panjang. Kalian masih harus melewati berbagai rintangan dalam hidup ini, namun kalian juga akan tetap mendapatkan kebahagiaan di setiap rintangan itu. Jangan khawatir jika kalian mengalami kegagalan, karena itu merupakan batu loncatan bagi kemenangan kalian. Jika kalian berhasil, bersyukur-lah pada Tuhan, karena jika tanpa-Nya, kalian bukanlah apa-apa, hanya seperti debu yang berterbangan tak berguna. Jangan-lah kalian bersikap sombong, karena itu adalah awal dari segala kehancuran. Jika kalian diberikan kepercayaan untuk memimpin, jadilah pemimpin yang baik, adil, dan bijaksana, dengan begitu, negara kita pasti akan terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Percaya-lah pada diri kalian sendiri, karena jika kita ragu akan kemampuan diri kita sendiri, kita hanya seperti berlian yang terkubur di dalam tanah yang dalam, tak ada seorang pun melihat dan percaya bahwa kita mampu, karena itu, kita harus percaya pada diri kita sendiri. Terakhir, selain berdoa, berusaha, dan percaya diri, ada satu hal yang dapat membuat kita berhasil. Kalian tahu apa itu ? Melakukan semua pekerjaan dengan hati. Jangan setengah-setengah. Lakukan dengan hati, maka pekerjaan kalian menjadi sempurna.’. begitulah isi pesannya.”, kata Aldi mengakhiri bacaannya.
Meskipun Aldi tidak lagi menjadi orang kaya, namun sekarang, kehidupannya menjadi lebih baik. Aldi dapat terus melanjutkan sekolahnya dengan beasiswa yang ia dapatkan. Ia selalu menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya.
Delapan tahun kemudian……..
Aldi telah menjadi seorang siswa SMU yang memiliki sederet prestasi. Kini, ia duduk dengan gelisah untuk menunggu gilirannya tampil dalam lomba membaca puisi di sebuah gedung yang cukup besar. Ia merasa khawatir dengan penampilannya.
“Lakukanlah dengan hati….”, ucap Aldi terus-menerus dalam hatinya untuk membangkitkan semangatnya. Tak lama kemudian, giliran Aldi maju ke podium. Ia memejamkan mata sebentar, menarik nafas dalam-dalam.
“Puisi ini, secara khusus saya ciptakan untuk guru saya yang telah tiada. Guru yang telah merubah hidup saya. Guru yang telah memberikan arti hidup yang sebenarnya kepada saya…………………..”
“Senyummu Permataku”
Terik matahari tak kau hiraukan
Hujan deras tak menghalangimu
Kau tetap melangkah dengan tegap
Memberikan ilmu pada muridmu
       Tapi apa yang kulakukan ?
       Menghinamu
       Mencacimu
       Tak menghargaimu
Padahal lelah sangat menderamu
Peluh selalu terlihat di wajahmu
Tetapi, senyum tak lepas menghiasi wajahmu
Wajahmu yang sayu itu
       Kau berusaha keras
       Sabar atas apa yang telah kulakukan
       Selalu memaklumi sikapku
       Yang sudah sangat keterlaluan
Tetapi, bagaimana denganku ?
Apa yang dapat membalas jasamu ?
Jasa yang tak pernah berhenti mengalir
Seperti air terjun di kaki bukit
       Hanya karena aku malu
       Hanya karena aku egois
       Aku tak dapat menghargaimu
       Aku tak dapat berterima kasih padamu
Aku hanya berharap dapat melihat senyummu
Senyum ikhlas yang kau berikan pada muridmu
Karena senyummu adalah permata bagiku
Wahai guruku…
Tak lama kemudian, pengumuman pemenang lomba pun diumumkan. Aldi berhasil meraih juara 1. Ia sangat bahagia. Pekerjaan yang dilakukan dengan hati, pasti akan lebih bermakna, dan Aldi merasakannya sendiri.
“Terima kasih Tuhan, terima kasih Pak Maman, kau telah merubah hidupku.”, kata Aldi dalam hati.
TAMAT

Comments

Popular Posts