“ Penolong Tanpa Nama”


Sebuah cerpen yang khusus saya dedikasikan untuk diikutsertakan dalam "Lomba Mengarang Cerita Detektif Majalah Bobo" 

“ Penolong Tanpa Nama”

Namaku Dina Aisyah. Seorang pelajar kelas 6 SD yang bersekolah di salah satu sekolah swasta tempat anak orang kaya menuntut ilmu, nama sekolah itu SD Pelangi. Lima setengah tahun yang lalu, saat aku belum sekolah, aku menemukan sebuah brosur yang menjelaskan bahwa SD Pelangi menyelenggarakan sebuah tes untuk menentukan seorang anak yang berhak mendapatkan beasiswa belajar di sekolah itu. Untuk mengikuti tes itu, setiap hari aku belajar di perpustakaan rakyat. Akhirnya, hari tes pun tiba. Aku duduk di sebuah ruangan yang asing bagiku. Ruangan itu dingin bagai es, kursi-kursi yang bagus berjajar rapi di dalamnya, dan lantai-nya dilapisi permadani yang sangat indah. Aku mengerjakan tes dengan tangan gemetar, sampai beberapa menit kemudian, aku selesai mengerjakan tes itu. Tiga jam berlalu, dengan takut-takut aku melihat mading SD Pelangi, aku sangat terkejut, karena aku berhasil ! Aku berhasil mendapatkan beasiswa !
Lima setengah tahun kemudian, di sini-lah aku sekarang, di koridor SD Pelangi, sebagai murid kelas 6. Sebenarnya, aku sangat malas bersekolah di sini, itu karena status-ku sebagai orang miskin. Aku selalu dikucilkan oleh teman-temanku yang orang kaya di sini. Namun, aku tidak bisa meminta orang tua-ku untuk memindahkanku ke sekolah lain, karena satu hal, biaya. Ayah-ku yang hanya seorang buruh bangunan dan ibu-ku yang hanya seorang penjual pisang goreng, tidak akan mampu membiayai sekolahku, mengingat adikku yang juga sakit-sakitan. Aku harus bersabar atas semua cacian teman-temanku, terutama pada Karina Dirvilinda. Karina memang salah satu anak terkaya di sekolah-ku. Keluarganya adalah pemilik perusahaan yang sangat berpengaruh di Indonesia. Ia selalu saja mengejek dan menghinaku, namun, sahabatku yang juga kaya, yaitu Ryva, selalu membela dan menghiburku, sehingga aku dapat bangkit kembali. Hari ini, seperti biasa, Karina dan teman-temannya mengejekku, tetapi aku tetap diam dan bersabar. Bu Indah masuk ke dalam kelas. Hari ini semua anak harus membawa jangka untuk pelajaran matematika, jika tidak membawa, maka akan dihukum.
“ Ya ampun ! aku lupa membawa jangka-ku ! Jangka itu tertinggal di meja belajar-ku ! Bagaimana ini, Nab ?  Bantu aku !”, kata Karina pada teman sebangkunya yang juga sombong, Nabilla.
“ Aku tidak dapat membantumu Kar ! aku hanya membawa satu jangka !”, jawab Nabilla.
“ Karina, pakailah jangka-ku ini, meskipun tidak sebagus milikmu, namun aku yakin, ini akan menyelamatkanmu dari hukuman”, kataku pada Karina yang duduk tepat di depanku.
“ Tetapi, bagaimana denganmu, Din ?”, tanya Karina padaku.
“Aku akan mengaku pada Bu Indah bahwa aku tidak membawa jangka”, kataku sambil berdiri dan berjalan mendekati Bu Indah, dan disini-lah aku sekarang, berdiri di pojok kelas karena mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak aku lakukan, namun aku tidak menyesal atas apa yang telah kulakukan.
Keesokan harinya, ketika aku sampai di sekolah, aku kembali di hina oleh Karina, namun aku hanya diam. Aku terkejut ketika melihat dompet-ku yang kosong.
“ Ya ampun Ryva, uang-ku terjatuh ketika membayar angkot tadi. Aku tidak bisa membeli obat untuk adikku. Bagaimana ini ? Aku tidak tega jika harus memintanya lagi pada orang tua-ku”, kataku pada Ryva sambil terisak.
“ Maaf Dina, tapi aku tidak dapat membantumu, uang-ku tertinggal di rumah, sehingga aku tidak dapat meminjamkan uang padamu”, jawab Ryva dengan raut muka menyesal yang terlihat jelas. Hari ini hari Selasa, itu berarti aku harus mengerjakan tugas piket. Sebenarnya, tugas piket ini juga merupakan tugas Karina, Nabilla, dan Sarie, namun, mereka selalu pulang lebih dulu dan menyerahkan semua tugas mereka padaku. Aku pergi ke ruang peralatan untuk mengambil sapu dan kain pel. Aku mengerjakan semua tugasku dengan gelisah, karena uangku yang hilang itu. Aku membayangkan, betapa lelahnya aku pulang dengan berjalan kaki dari sekolah sampai rumah, aku juga membayangkan, wajah orang tua-ku yang kecewa karena uang yang dititipkan mereka padaku kini telah lenyap. Semua tugas piket-ku telah aku selesaikan. Sebelum pulang, aku membuka tas-ku untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Aku terperanjat ketika ku-lihat amplop hijau di dalam tas-ku, tanpa ragu, ku-buka amplop itu, di dalamnya terdapat sejumlah uang dan secarik surat yang juga berwarna hijau. Kubaca surat itu perlahan, ‘Ini ada sejumlah uang untukmu Dina, pakai-lah untukmu dan untuk kebaikan, uang ini halal, sehingga kamu tidak perlu khawatir. Dari seseorang yang menghadap matahari dengan posisi sejajar, yang dapat melihat bunga mawar dari atas secara jelas, dan yang bersandar lebih awal darimu’.
Aku bingung, dari siapa ini ? Namun aku sangat butuh uang ini. Aku menggunakannya untuk naik angkot pulang ke rumah, membeli obat untuk adikku dan memberikannya pada teman-temanku yang bekerja sebagai pengamen dan pengemis. Uang itu memang sangat membantu, namun, sampai sekarang, aku tidak bisa menemukan orang baik yang memberikannya. Aku mencoba berfikir dan memecahkan petujuk dari orang itu, namun aku selalu saja menemukan jalan buntu.
           Sabtu siang, aku dan teman-temanku akan melaksanakan upacara penurunan bendera, namun aku datang terlambat karena harus membantu Bu Indah memasukkan nilai ulangan ke dalam buku nilai, akibatnya, aku harus berdiri di barisan belakang, padahal tubuhku pendek, sehingga aku jadi kesulitan untuk melihat ke depan. Tiba-tiba saja, Shabira menawarkan untuk bertukar tempat denganku, aku senang karena sekarang aku dapat melihat dengan jelas ke depan, namun aku bingung, karena Shabira yang biasanya selalu menghinaku, kini berbuat baik padaku. Aku termenung di dalam kelas, memikirkan siapa kira-kira orang baik yang memberikan uang padaku, hingga aku melihat sebuah poster matahari dan planet-planetnya di depan kelas. Aku terperanjat, karena aku yakin, matahari yang dimaksud oleh orang baik itu di dalam suratnya adalah poster itu. Jika dugaan-ku benar, maka yang dimaksud dengan ‘menghadap matahari dengan posisi sejajar’ itu adalah, ia duduk di barisan-ku, karena poster itu tepat berada di depan barisanku, namun ada 8 orang anak yang duduk d barisanku, yaitu Karina, Nabilla, aku, Ryva, Shabira, Sarie, Sabrina, dan Thara.
           Hari Senin, Bu Indah meminta-ku untuk membawakan setumpuk buku IPA ke ruang guru, karena tubuhku yang kecil, aku sempat kebingungan bagaimana caranya aku membawa semua buku itu ke ruang guru, namun pertolongan datang, ketika tiba-tiba saja Sabrina dan Thara menghampiriku dan membantuku membawakan buku-buku itu, aku semakin bingung dengan perubahan sikap Sabrina dan Thara, karena selama ini, aku sering menangis akibat perlakuan mereka yang membuatku sakit hati. Aku memikirkan hari-hariku akhir-akhir ini, karena semua rasanya berubah. Shabira, Sabrina, dan Thara yang biasanya selalu menghinaku, kini bersikap baik padaku, selain itu, aku mendapatkan sejumalah uang dari seseorang yang tidak mau menyebutkan namanya. Aku semakin bingung dan bingung saja. Aku terduduk di kursi taman sekolahku. Sekarang waktu istirahat, aku selalu memakan bekalku di taman ini. Aku melihat ke sekeliling taman, sampai aku teringat sesuatu. Taman ini penuh dengan bunga mawar yang sangat indah. Salah satu petunjuk yang diberikan oleh orang baik itu adalah ‘dapat melihat bunga mawar dari atas secara jelas’. Kupikir, maksud dari bunga mawar itu adalah bunga mawar yang ada di taman ini. Aku langsung melihat ke atas, di sana, di lantai 3, terdapat kelasku, dan barisan tempat duduk-ku tepat berada di sebelah jendela yang menghadap ke taman ini. Aku yakin, dari sana, akan terlihat jelas bunga mawar ini. Aku semakin yakin atas dugaanku bahwa orang baik itu ada di antara 7 orang teman-temanku yang duduk satu baris denganku. Aku menjalani hari Senin-ku ini dengan penuh cacian yang diucapkan oleh Karina dan teman-temannya. Karina memang belum berubah meskipun aku telah berkorban dengan meminjamkannya jangka, namun, kita memang tidak boleh mengharapkan imbalan jika kita memberikan sesuatu pada orang lain. Hari ini, Bu Indah memberi tugas padaku dan teman-teman untuk menuliskan biodata secara lengkap, meskipun itu berarti aku harus menuliskan bahwa orang tua-ku hanyalah seorang penjual pisang goreng dan buruh bangunan, namun aku tetap tidak malu atas keadaanku, karena mereka-lah orang tua-ku, mereka-lah yang menjaga dan merawatku, dan mereka-lah yang terbaik dalam hidupku. Aku melihat satu per satu biodata teman-temanku, aku baru tahu, kalau Sabrina dan Nabilla sangat suka warna pink, dan Shabira, Sarie, Thara serta Karina sama-sama menyukai warna hijau. Sedangkan aku dan Ryva sendiri sama-sama menyukai warna biru. Sore hari, aku berjalan di tepi jalan untuk mengantarkan pisang goreng ke warung Bu Karim. Aku termenung sambil terus memikirkan siapa orang baik itu, hingga aku ingat sesuatu, dan kini aku tahu siapa orang baik itu ! Aku tahu ! dan aku yakin, besok ia akan memberikan sesuatu padaku, dan saat itu, aku akan menemuinya !
         Hari Selasa, itu tandanya tugas piket telah menantiku. Seperti biasa, Karina, Sarie, dan Nabilla telah menghilang dari pandanganku dan menyerahkan semua tugas mereka padaku. Aku berlari menuju ruang peralatan untuk mengambil sapu serta kain pel, dan aku kembali berlari secepat kilat menuju kelas, dan sesuai dugaanku, disanalah orang baik itu, ia hendak memasukkan sesuatu ke dalam tas-ku.
“Jadi, kau yang memberikan uang itu padaku ?”, tanyaku pada orang itu.
“Din..Dina…ba..bagaimana kamu bisa tahu ?”, jawabnya sambil terbata.
“Petunjuk darimu ! matahari itu adalah poster matahari di depan kelas dan bunga mawar itu ada di taman sekolah ini, jadi aku bisa menebak bahwa tempat dudukmu ada di barisanku, dan itu berarti kamu ada di antara Ryva, Nabilla, Karina, Thara, Sabrina, Shabira, dan Sarie. Aku kembali berfikir tentang apa yang kau maksud dengan ‘bersandar lebih awal darimu’, hingga aku sadar, bahwa yang kau maksud adalah, kau duduk di depanku. Selain itu, kau juga mengirimkan uang dalam amplop berwarna hijau, dan kertas surat yang menyertai uang itu pun berwarna hijau, dari situ aku tahu, bahwa orang itu pasti penyuka warna hijau, dan anak yang menyukai warna hijau di barisanku hanya Shabira, Sarie, Thara serta Karina ”, kataku kemudian.
“Namun, selain aku, Nabilla juga duduk di depanmu, bagaimana kamu bisa tahu kalau orang itu adalah aku ?”, tanya orang itu lagi.
“Kamu lupa Karina ? Nabilla tidak menyukai warna hijau, ia seorang pecinta warna pink,”, kataku pada Karina. Ya, orang itu adalah Karina yang selama ini selalu jahat padaku. Awalnya aku tidak menyangka bahwa ia yang memberikanku uang, namun segala petunjuk menuju padanya, dan aku tahu, Karina pasti memiliki alasan tersendiri akan hal itu.
“Kamu hebat Dina, kini aku benar-benar yakin bahwa kamu memang pantas menerima beasiswa di sekolah ini. Aku menyuruh Sarie dan Nabilla pulang lebih dulu dengan alasan bahwa aku akan menunggu supir yang akan menjemputku, namun sebenarnya tidak. Aku menyuruh mereka pulang lebih dulu karena aku ingin menyerahkan sesuatu padamu yang kukira dapat menolongmu. Hanya pada hari Selasa aku dapat menyerahkan hadiah itu, karena selain ada tugas piket, setiap hari Selasa juga supir-ku selalu minta cuti karena ada urusan yang harus ia selesaikan, sehingga aku bisa pulang sendiri naik angkot, dengan begitu, tidak akan ada yang tahu bahwa aku akan menyelipkan hadiah ini pada tas-mu. Aku ingin meminta maaf atas kelakuanku selama ini padamu Dina, dan aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu pada waktu yang lalu. Kamu mau jadi temanku ?”, tanya Karina kemudian. Apa jawabanku ? tentu saja aku memaafkan dan mau menerimanya menjadi temanku, dan kalian tahu ? akhir cerita memang selalu bahagia. Sekarang, aku mempunyai banyak teman. Mereka tidak lagi mengejek dan menghinaku, dan aku berharap, akan tetap seperti ini hingga ajal menjemputku.

Comments

Popular Posts